Puisi M.D. Atmaja
Aku menatap jauh
dimana mimpi hari depan pernah digantungkan
dari gelap gemawan hitam tirani
berpuluh tahun mengangkang, memperkosa gadis pertiwi
bergerak, menuju kemilau emas reformasi demokrasi.
Sudah sama kita rasakan
kekuasaan menjerat leher napas pergerakan
karena komunis pernah memberontak pada negeri
lalu penguasa pun, memilih menjadi tirani
demi stabilitas nasional, ketenangan, dan kenyamanan.
Tapi untuk siapa kesemua itu?
sampai gelombang protes mengalir dari setiap penjuru
menggugurkan tahta raja
kemudian memulai yang baru.
Jauh pada pandangan yang semakin mengabur
ku pandangi hutan batu
ku pandangi
wajah-wajah kuyu-lesu,
ku pandangi kehidupan baru itu,
ternyata keemasan matahari demokrasi mengabur
terselimut kabut kaca
etalase reformasi yang membias cahaya.
Kenapa bisa seperti itu? pikirku.
Telinga kanan mendengar bisikan tak beraturan
seperti gumaman
atau teriakan dari sudut jauh tak tergapai
tentang rakyat yang dibunuh kemiskinan
dibantai keadaan, serba tidak menguntungkan
sampai mereka berbondong pergi
meninggalkan perawan pertiwi termangu sendiri.
Mereka melaju kemana? Tanyaku letih tanpa suara.
tidak ada jawaban, mungkin saja memang tidak terjawab
hanya gerak tak berirama
menyeberangi lautan berkendara angin puputan
sementara serbuk kaca menggelegak di dalamnya.
Aku tercengang, kaca berserak bersimbah darah
merenggut manusia-manusia pertiwi
meremuk di dalamnya
menari-nari paksa demi hidup yang terjanjikan
di tanah seberang meski
di sana mereka seperti barang dagangan
tidak lebih seperti sendok made-in cina
tidak lebih seperti gerabah Kasongan
atau sapi-sapi di rumah jagal
berderet-deret untuk dipenggal kepalanya.
Seperti inikah perubahan itu?
Reformasi itu? tanyaku pelan tak terjawab.
Aku menatap jauh
mimpi hari depan masih digantungkan
dari gelap gemawan hitam tirani
yang belum puas memperkosa gadis pertiwi
berkalung benang emas reformasi.
Mimpi itu membungkusku
seperti dongengan ibu yang menjeratku dalam kantuk
magis membelai nyawa, menoropong
ketaksadaran dan berlelap begitu saja.
Begitu kuat guntur memecah bumi
berteriak histeris membuatku terjaga
berdiri kebingungan mencari hari – hari depan
kemana? Dimana? Tercuri siapa?
Aku tersadar, telinga kiri meraup suara
lengking perempuan diperkosa di tanah seberang
oleh orang-orang asing
seperti dahulu, berpuluh tahun lalu ketika nusantara terjajah.
Lalu, apa bedanya?
Apakah kita sudah merdeka?
Sudahkah merdeka?
Dimana kemerdekaan itu,
bangsa yang bagai dewa melindungi rakyat
Sekarat!
Dimana?
Belum tuntas mata nanar menatap galau
belum selesai raungan perempuan
dikoyak – moyak selangkangannya
aku mendengar lagi
jerit ketakutan perempuan dari bumi pertiwi
ketika se-rotan pukulan dihempas keras
diketika gelegak panas air dihujankan pada tubuh
perempuan-perempuan pertiwi, di negeri seberang
menangis kesakitan – meronta meminta tolong.
Pada siapa?
Negara?
Di mana negara itu?
Kupandangi lagi cerah langit merah
menetes darah di sana
dimana dulu pernah digantungkan mimpi indah
hari depan setelah gelap gemawan hitam tirani
berpuluh tahun mengangkang, memperkosa gadis pertiwi
bergerak, menuju kemilau emas reformasi.
Kulitku meremang,
kesedihanku membludak dan hanya jadi tangisan
mimpi indah itu ternyata hanya di etalase
terjual untuk mereka yang kaya.
reformasi hanya buat mereka penguasa
pemilik modal atau politisi pandai meloncat bicara
tidak untuk buruh,
juga tidak untuk petani.
Mereka masih sama saja dengan berpuluh tahun lalu
tertindas, tersingkir, terjual oleh negeri sendiri.
Masih terjajah!
Masih kita bilang telah merdeka?
Lalu dimana negara itu?
Dimana dewa manusia pelindung itu?
Diketika pemerintah membicarakan ekspor
membicarakan angka kenaikan taraf hidup
membicarakan angka-angka kemakmuran
membicarakan angka-angka peningkatan.
Hah, peningkatan apa? Ekspor manusia? Atau
peningkatan penindasan dalam selubung mimpi reformasi?
Dan aku sendiri hanya mampu menyepi
menangis, marah, namun pada siapa entah
ku pandangi saja,
etalase reformasi
membayangkan kehidupan penuh mimpi
tentang manusia, rakyat yang lebih dihargai ketimbang kepalsuan janji
tentang martabat bangsa dan harga diri bumi pertiwi.
Bukankah,
ketika buruh migran di pukul kepalanya, disiram dengan air panas,
dijual bagai binatang terjagal
atau diperkosa tanpa adab kemanusiaan,
bukan sama saja memperkosa negara ini?
Bukankah menampar negara ini?
Bukankah sama saja menginjak harga diri?
Lantas dimana negara?
Lantas dimana mimpi itu?
Masih kupandangi dengan penuh mengimpi
matahari emas reformasi
tentang dongengan indah akan keberadaban
kemanusiaan, ketuhanan, kebangsaan.
Masih kita punya harga diri?
Sedang aku hanya menatap etalase reformasi
masihkah itu berarti?
Rumah Kantor Biro Khusus – Sarekat Sastra Indonesia, April 2011
benar sekali. reformasi menjejal banyak hal di etalasenya. kita tinggal pilih. mungkin kebebasan akan kita atasnamakan untuk kepentingan politis paling buruk dan curang..
salam