Tag

, , , , , , , , ,

Momentum yang sungguh tepat, ketika saya kembali berpapasan dengan keadaan ini. Di ketika saya berada dalam kekosongan, sepi yang sendiri dan kedinginan terbungkus kabut menyelimut. Apalagi ditambah dorongan hasrat yang terus memberondong, berusaha sekuat tenaga menjerumuskan diri dalam lingkaran setan. Tiba-tiba terlintas, soal pengantin baru. Ah, harus melihatnya dalam ketelanjangan.

Ketelanjangan bagi saya adalah kemauan untuk berbuka diri pada setiap kemungkinan. Entah itu mengenai hal baik atau buruk. Telanjang menghadapi diri untuk memandang gamblang gairah pengantin baru.

Dalam hening, saya berusaha menangkap gairah itu. Seirama nada alam sehembus aroma dalam dari masa lalu. Kemudian, saya justru dihadapkan pada diri yang benar-benar telanjang. Bermandi lumpur dosa, menemu perjalanan waktu yang terlewati. Jadi seperti ini, bersimbah darah dosa dari tapak perjalanan yang telah saya lupakan.

Bagaimana tidak, diri ini ditelanjangi alam sampai sampai menemukan diri yang sebenarnya, dalam kesadaran bukan ketak-sadaran. Saya mencermati lagu hening ini, menghadirkan kenyataannya ternyata saya memang masih jauh dari mengerti. Jauh dari indahnya berterima kasih setelah apa yang Tuhan Semesta Alam berikan.

Namun sungguh benar kalau dunia ini adalah belantara simbol yang membutuhkan perhatian tersendiri untuk memahami keesaan. Waktu yang mana dikhususkan dan disertai dengan ketelanjangan diri. Kita akan sulit bertemu dengan pemahaman saat kita menghadapi belantara ini dengan masih mengenakan pakaian kemunafikan dan kebohongan. Di sini (saat ini) hanya ada dua malaikat yang tanpa protes, setan yang menggoda, dan tentu saja dalam pengawasan Tuhan Semesta Alam, pusat dari segala pemahaman.

Dalam semilir angin, saya mendengar syair lama yang membawa pada perjamuan pengetahuan. Bahkan mengenai “temanten anyar” atau pengantin baru yang menyimbolkan kemurahan hati Tuhan Semesta Alam untuk seluruh makhluk. Ya, syair itu saya kenal dengan judul “Lir-ilir” yang menurut cerita orang-orang tua adalah karangan Kanjeng Sunan Kalijaga, yang mana ada sumber lain yang mengatakan kalau “Lir-ilir” ini merupakan karangan Sunan Giri. Mana yang benar, saya belum menemukan itu.

Yang saya tahu pasti, syair ini menjabarkan mengenai indahnya perjalanan hidup, sekaligus jalan hidup itu sendiri.

Tuhan Semesta Alam dalam rahmat yang tidak akan mampu dibeli, menciptakan dunia sebagai surga. Kenikmatan yang seharusnya mengajari saya untuk berterima kasih, bukannya membuat saya lupa pada hakekat perjalanan. Akantetapi, sayalah manusia yang kerdil iman dan pengetahuan justru terkesima pada indah dunia. Terlena dan mabuk di dalamnya. Sampai membuat saya melupakan indah perjalanan menuju Kesejatian. Memang saya ini manusia yang bodoh, dan kebodohan yang telah saya sadari saat ini mendorong saya untuk menjadi seorang pelacak jejak, atau anjing pelacak.

Berjalan di atas surga dunia, yang seperti pengantin baru itu tadi, membawa manusia untuk tegas bersyukur. Atas nikmat, misalnya saja napas. Rasa syukur bisa dijalankan dalam beberapa bentuk, kalau menilik syair “Lir-ilir” tadi, bahwa manusia diarahkan menjadi “bocah angon” atau anak penggembala. Yaitu aktivitas untuk menggembala diri sendiri, mengarahkan hewan yang ada di dalam diri manusia untuk menempuh jalan baik menuju pada rumput. Seorang penggembala adalah seorang yang menguasai binatang (diri atau keinginan manusia).

Musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri. Saya jadi teringat dengan kisah Rasulullah S.A.W., yang pernah dikisahkan leluhur saya. Bahwa setelah kembalinya Rasulullah dari perang Badar, beliau mengatakan kalau umat Islam akan menghadapi perang yang lebih besar lagi, yaitu diri manusia itu sendiri. Untuk bisa mengalahkan musuh diri, saya pun dituntut untuk memainkan peran “bocah angon”, penguasa atas kebinatangan diri.

Bocah penggembala diminta untuk memetikkan buah Belimbing. Kenapa Belimbing? Kok tidak Apel? Ah, buah ini justru mengingatkan saya pada kampung halaman di Banjarnegara. Belimbing mewakili lima waktu dalam sehari, yaitu sembahyang. Ada juga yang mengintepretasikan sebagai rukun Islam. Dalam aspek ini saya lebih sepakat, kalau buah Belimbing mewakili sembahyang lima waktu. Sebab, bukankah shalat sebagai tiangnya agama? Orang yang shalatnya dijalankan dengan “baik” maka akan baik pula budi pekertinya. Lain halnya dengan seseorang yang memiliki gelar “haji” yang belum tentu memberikan jaminan bagi kebaikan esensinya. Di zaman sekarang, setiap orang yang punya uang bisa mendapatkan gelar “haji” itu. Pun, koruptor bisa menjadi haji.

Sembahyang lima waktu, meskipun susah saya harus mencapainya, seperti yang sudah dipesankan Kanjeng Sunan: “Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot iro”. Pencapaian sembahyang lima waktu yang baik, membawa pada kebaikan perilaku, iman dan jalan hidup serta untuk membersihkan tubuh manusia dari dosa. Meskipun susah, saya harus mencapainya, karena “dodot” (baju) bisa diartikan sebagai agama atau pun tubuh. Baju yang rusak tentu saja tidak pantas digunakan untuk menghadap Raja. Nah, kalau pakaian itu rusak saya harus menjahitnya.

Pakaian bersih dan bagus digunakan dalam pertemuan. Bertemunya manusia dengan hari dimana kita bertemu dengan semua perbuatan.

“Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane”, begitu pesan Kanjeng Sunan. Mumpung saya masih mempunyai kesempatan, saya harus berusaha menjadi “bocah angon” yang baik dan berhasil memanjant pohon Belimbing. Agar saya tidak menyesal, karena setelah hembusan napas di hari ini, penyesalan itu seperti melihat maling dan saya berteriak maling hanya di dalam hati [Catatan Perjalanan | M.D. Atmaja | Gathak-Gathuk]

Studio SDS – masih dalam Perjalanan Pulang, 2011

Tulisan terkait: