Tag
Agama Di Jawa, Alas Purwa, Empu, Fenomenologi, Kenikmatan, Lembar Catatan, M.D. Atmaja, perempuan, Seksualitas, Suluk Gatholoco
Sepertinya saya telah melalui semua, merasakan semua lekuk yang kadang terabaikan. Perjalanan jauh tertempuhi dalam sehari, meski tidak sampai menjadi perjalanan jauh dalam semalam, namun cukup melelahkan. Malam sudah terlalu dingin, sementara tubuh begitu lelahnya menanggung segala persoalan. Eh, entah kenapa, saya menemukan lintasan pikiran yang aneh. Tentang perempuan, tentang tanah, tentang kehidupan. Hawa dingin yang terus menggelitik membuatku semakin kuat terjaga.
Ada sesuatu, menggelitik dari relung gelap yang membutuhkan ketelanjangan diri. Alam bawah sadar dan atas sadar saling membujuk untuk melakukan sesuatu. Mencari kehangatan indah yang menguatkan.
Entah dikarenakan faktor apa, saya sampai merasakan diri yang terpental jauh ke masa silam. Jauh sebelum kita berbiak dengan cepat sampai sudut-sudut sunyi tidak mampu menampung lagi. Terlalu sesak, dan saya memutuskan untuk berpijak di ruang kosong pada tubuh perawan yang ada di awang-awang. Perjalanan ke sana semakin membuat tersudut, tubuh telanjang perempuan yang subur.
Sekilas, mata ini merengkuh gambaran realitas yang telah tertempuhi dalam pencarian. Apa memang benar kalau kebenaran yang ada adalah sosok tubuh perempuan telanjang? Dan sampai detik ini, pertanyaan itu menggantung saja, tidak saya ketemukan jawabannya. Lantas, dimana puncak gunung kembar dan kepalanya? Wah, bisa menjadi hal yang rumit dan membingungkan. Bisa juga orang akan menafsir kalau yang menulis catatan ini ternyata adalah seorang pagan.
Lebih jauh lagi saya menelisik ke dalam diri. Menggerayangi seluruh sistem tubuh untuk mencapai pemahaman. Sedikit pengertian yang semoga saja menghilangkan resah.
Pembahasan mengenai ini, pernah saya singgung sedikit dalam tulisan EMPUKU, PEREMPUANKU. Yang mengingatkan saya mengenai sosok perempuan hebat. Banyak dari kita (lelaki) yang dalam suatu titik tertentu lebih menempatkan perempuan sebagai objek daripada diposisikan sebagai partner. Misalnya saja, dalam hubungan seksualitas perempuan ditempatkan seolah-olah sebagai alat oleh lelaki dalam mencapai (mencari) kepuasan.
Kondisi yang sampai menempatkan perempuan sebagai objek atau pun sebagai alat, saya interpretasikan sebagai buah dari mitos yang selama ini dibangun. Bahwa lelaki adalah makhluk super dan menempati kelas khusus (mungkin super VIP). Akhirnya melahirkan dominasi yang mengarah pada eksploitasi.
Dalam perjalanan hidup, saya menemukan dunia dimana perempuan menempati posisi pertama. Mungkin ini merupakan bagian dari dunia keterbalikan yang pernah saya tulis dalam BERSETUBUH DARI DUA DUNIA dan SPERMA YANG TERNYATA BUTA. Ketika mayoritas lelaki menempati posisi pertama (atas) saya justru menempati posisi kedua (bawah) – di bawah saya ada manusia dengan ketidak-jelasan hormon.
Bagi saya pribadi, perempuan itu lebih seperti Empu yang mengandungi sifat kebijaksanaan, kesetiaan dan pengorbanan. Tiga kriteria ini tidak berlaku secara universal sebab perempuan seperti dua mata pisau: di lain pihak bisa menjadi Ratu Pandhansari (yang juga pernah saya ulas dalam EMPUKU, PEREMPUANKU) namun di pihak lain juga seperti si perempuan cantik Rara Jonggrang (dalam tulisan BELAJAR DARI KETRAGISAN BANDUNG BANDAWASA).
Saya menempatkan perempuan sebagai empu karena sifat ketuhanan yang ada di dalam dirinya, bukankah “surga itu ada di bawah telapak kaki ibu?” Soal kenikmatan, nah ini lain soal. Membicarakan masalah kenikmatan perempuan, saya pun langsung teringat dengan “air rasa” yang terdapat dalam Suluk Gatholoco. Bahwa di dalam tubuh perempuan (Perjiwati) ada mata air yang nikmatnya tak terpermanai. Kenikmatan perempuan tidak terdapat di dalam tubuhnya (pernah saya tulis dalam KECANTIKAN, SEKS, dan TUBUH) tapi dalam “air rasa” itu.
Membicarakan soal “air rasa” yang disebut-sebut Suluk Gatholoco mengingatkan saya pada perjalanan Andrew Beatty ke Alas Purwa di Jawa Timur. Kita akan diajak untuk menyusuri rimbunnya belantara Alas Purwa, menemukan berbagai nilai magis yang sungguh teramat indah. Lalu kita akan menemukan gua yang lantainya licin, menyusur sampai ke dalam dan menemukan ketenangan di dalamnya. Dua itu disebut dengan nama Gua Kelelawar.
Andrew Beatty dalam bukunya berjudul “Variasi Agama Di Jawa” (2001) membuka suatu pemahaman mengenai belantara simbol. Gua yang ada di Alas Purwa adalah simbolisme dari “rahim ibu” dan hutan sebagai rambut kemaluan. Saya lebih senang menyebutnya seperti ini, bahwa lubang (gua) di tengah hutan itu ternyata adalah kelamin perempuan. Pantas sekali, kenyataannya tanah Jawa begitu subur. [Catatan Perjalanan | M.D. Atmaja | Gathak-Gathuk]
Studio SDS – dalam Perjalanan Pulang, 2011.
Disertakan dengan photonya, pastinya tambah asyik…hehehehehe